Bakrie & Brothers adalah salah satu perusahaan terkemuka di Indonesia dengan lingkup kepentingan bisnis yang berfokus pada sektor manufaktur dan infrastruktur.

Sejarah Visi dan Misi Proyek Berjalan Struktur Organisasi & Perusahaan Tata Kelola Perusahaan Kepemimpinan Entitas Kami

Kami memiliki visi berbisnis, yang mewujudkan pertumbuhan dengan melayani masyarakat dan negeri.

Cerita Organisasi Sosial

Jelajahi berita dan pengumuman terbaru kami yang mencakup inovasi, karyawan kami, keberlanjutan, pemasaran, dan lainnya.

Berita dan Pengumuman

Tinjau data kinerja perusahaan, pelajari tentang strategi bisnis kami, dan prospek masa depan.

Pesan dari CEO Ikhtisar Keuangan Presentasi Perusahaan Laporan Keuangan Laporan Tahunan Struktur Kepemilikan Saham

Ikuti berita terbaru dari Bakrie & Brothers.

GMS Paparan Publik & Aksi Korporasi Korespondensi Dokumen Pendukung

Untuk para pemikir kreatif dan percaya diri yang siap melampaui batasan.

Human Resource Career Opportunities & Inquiries
News Header
BERITA DAN MEDIA

Blog

Pengembang Properti Terjepit Bahan Baku dan Daya Beli

10/07/2026
Pengembang Properti Terjepit Bahan Baku dan Daya Beli

Sumber: Bloombergtechnoz.com | 09 Juli 2026

Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Real Estat Indonesia (Waketum DPP REI), Bambang Ekajaya menilai pelemahan nilai tukar rupiah kembali memberi tekanan pada sektor properti. Ia menyebut kenaikan kurs meningkatkan biaya pembangunan, sementara daya beli masyarakat pulih.

"Yang utama dari impact ini tuh multidimensional ya, dalam arti gini kita memang properti itu ada segmen ya, segmen menengah bawah, segmen yang atas atau yang komersial. Nah kalau untuk yang komersial sudah pasti akan terkena impact-nya yang paling besar."

"Kenapa? Karena sebagian dari komponen itu kan kayak lift, kemudian lantai marmer, dan sebagainya itu kan impor," kata Bambang kepada Bloomberg Technoz, Rabu (8/7/2026).

Di sisi lain, Bambang juga menyebut bahwa tekanan biaya tidak hanya berasal dari barang impor. Material bangunan yang diproduksi di dalam negeri sejatinya juga turut terdampak karena masih menggunakan bahan baku impor dalam proses produksinya.

Selain itu, biaya logistik turut memperberat beban pengembang. Lantaran material bangunan yang memiliki bobot besar membuat ongkos distribusi meningkat seiring kenaikan biaya transportasi.

"Dengan bahan-bahan yang berat itu kenaikannya juga makin besar, makin terasa. Semen yang produk kebutuhannya begitu banyak dan cuman satu sack-nya harganya paling Rp75.000-Rp80.000 itu beratnya 50 Kg, ongkos transportnya langsung bisa naik 15%-20%, nah itu yang langsung terdampak ya terhadap building materialnya," jelasnya.

Pada saat yang sama, ia juga menekankan bahwa pengembang turut menghadapi kenaikan biaya pendanaan sebab sebagian proyek dibiayai melalui pinjaman perbankan. Kondisi tersebut diperparah oleh lemahnya daya beli masyarakat.

Oleh karenanya untuk menjaga penjualan, pengembang memilih menawarkan berbagai insentif kepada konsumen, mulai dari subsidi bunga kredit pemilikan rumah (KPR), uang muka rendah hingga fasilitas tambahan seperti interior gratis. Pelaku usaha juga masih mengandalkan insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) untuk menjaga minat pembelian rumah. Meski demikian, strategi tersebut membuat margin keuntungan perusahaan tertekan.

"Walaupun secara operasional komponen pembangunannya justru naik sebenarnya, jadi yang terjadi sebenatnya adalah penurunan profitabilitinya, tapi ya mau gak mau, yang penting kita bisa menjaga case flow biar perusahaan bisa bertahan dan operasional tetap berjalan," tegas Bambang.

Berita Terkait

TENTANG KAMI

About Us

Perjalanan Perusahaan dimulai dengan kisah bisnis perdagangan kecil yang berkembang, dan dalam lebih dari 75 tahun telah terlibat dalam bisnis investasi/divestasi, mencapai berbagai prestasi dan mengantarkan Perusahaan menjadi salah satu korporasi terkemuka di Indonesia.

SELENGKAPNYA