Bakrie & Brothers adalah salah satu perusahaan terkemuka di Indonesia dengan lingkup kepentingan bisnis yang berfokus pada sektor manufaktur dan infrastruktur.

Sejarah Visi dan Misi Proyek Berjalan Struktur Organisasi & Perusahaan Tata Kelola Perusahaan Kepemimpinan Entitas Kami

Kami memiliki visi berbisnis, yang mewujudkan pertumbuhan dengan melayani masyarakat dan negeri.

Cerita Organisasi Sosial

Jelajahi berita dan pengumuman terbaru kami yang mencakup inovasi, karyawan kami, keberlanjutan, pemasaran, dan lainnya.

Berita dan Pengumuman

Tinjau data kinerja perusahaan, pelajari tentang strategi bisnis kami, dan prospek masa depan.

Pesan dari CEO Ikhtisar Keuangan Presentasi Perusahaan Laporan Keuangan Laporan Tahunan Struktur Kepemilikan Saham

Ikuti berita terbaru dari Bakrie & Brothers.

GMS Paparan Publik & Aksi Korporasi Korespondensi Dokumen Pendukung

Untuk para pemikir kreatif dan percaya diri yang siap melampaui batasan.

Human Resource Career Opportunities & Inquiries
News Header
BERITA DAN MEDIA

Blog

Data Center Masa Depan Bakal Makin Mungil

20/01/2026
Data Center Masa Depan Bakal Makin Mungil

Sumber : Detik.com | 19 Januari 2025

Kebutuhan komputasi global terus melonjak seiring pesatnya adopsi layanan digital dan kecerdasan buatan (AI). Namun, di tengah pembangunan data center berskala raksasa yang mengonsumsi daya besar, mulai muncul perdebatan soal ukuran dan bentuk infrastruktur komputasi masa depan.

Selama satu dekade terakhir, data center identik dengan fasilitas besar menyerupai gudang yang memakan energi dalam jumlah masif. CEO Nvidia Jensen Huang bahkan menyebutnya sebagai pabrik AI, menegaskan perannya sebagai tulang punggung ekonomi berbasis machine learning, demikian dikutip detikINET dari Techspot, Senin (19/1/2026).

Kini, sebagian pelaku industri mulai mempertanyakan apakah data center memang harus selalu berukuran besar. Munculnya micro data center dan edge data center menghadirkan pendekatan baru, dengan perangkat komputasi berukuran kecil yang bisa ditempatkan dekat pengguna, bahkan di ruang publik atau hunian.

In Devon, England, a company called Deep Green is attracting attention after utilizing waste heat from a data center the size of a washing machine to heat a public swimming pool. Deep Green's founder, Mark Bjornsgaard, calls this approach the direction of the future. He believes public buildings have the potential to become locations for interconnected mini data centers that share workloads while utilizing waste heat.

Eksperimen serupa juga mulai masuk ke ruang privat. Pada akhir 2025, sepasang warga Inggris mengungkap bahwa server kecil di gudang kebun rumah mereka digunakan untuk memanaskan rumah. Tak lama berselang, seorang profesor universitas menceritakan GPU AI di bawah meja kerjanya kini berfungsi ganda sebagai pemanas ruangan.

Meski perusahaan hyperscaler seperti Amazon, Google, dan Microsoft terus menggelontorkan miliaran dolar untuk membangun data center raksasa, analis telekomunikasi Benedict Evans menilai ada peluang besar bagi edge data center berukuran kecil yang ditempatkan dekat pusat populasi. Kedekatan fisik ini dinilai dapat menekan latensi dan meningkatkan respons aplikasi berat komputasi.

Pandangan serupa disampaikan Amanda Brock, pimpinan kelompok advokasi OpenUK. Ia menilai dominasi data center besar berpotensi memudar seiring waktu. Menurutnya, ruang kota yang terbengkalai seperti bangunan kosong dan toko tutup dapat diubah menjadi pusat data kecil yang saling terkoneksi.

Dalam jangka panjang, Brock juga memprediksi pemrosesan data akan semakin bergeser ke perangkat lokal, mulai dari ponsel, set-top box, hingga router rumah. Perubahan ini sejalan dengan tren AI yang mulai meninggalkan model raksasa menuju model yang lebih kecil dan spesifik.

Hugging Face's AI and climate lead, Dr. Sasha Luccioni, believes that custom-designed AI models run locally tend to be more efficient and require less computing power. He believes that the continued use of large data centers is becoming increasingly difficult to sustain from an environmental perspective.

Dari aspek keamanan, profesor keamanan siber University of Surrey, Alan Woodward, menilai sistem terdistribusi memiliki risiko yang lebih kecil. Data center kecil dinilai tidak menjadi titik kegagalan tunggal, berbeda dengan fasilitas raksasa yang bisa berdampak luas ketika mengalami gangguan.

Bahkan, konsep data center masa depan tak lagi terbatas di Bumi. CEO Ramon Space, Avi Shabtai, menyebut luar angkasa sebagai peluang baru untuk membangun data center kecil dan modular di orbit. Perusahaannya kini tengah mengembangkan teknologi untuk menguji konsep tersebut. Tren ini menunjukkan bahwa di tengah kebutuhan komputasi yang terus meningkat, industri mulai mencari pendekatan yang lebih fleksibel, efisien, dan berkelanjutan, dengan ukuran data center yang tak selalu harus semakin besar.

Berita Terkait

TENTANG KAMI

About Us

Perjalanan Perusahaan dimulai dengan kisah bisnis perdagangan kecil yang berkembang, dan dalam lebih dari 75 tahun telah terlibat dalam bisnis investasi/divestasi, mencapai berbagai prestasi dan mengantarkan Perusahaan menjadi salah satu korporasi terkemuka di Indonesia.

SELENGKAPNYA