Bakrie & Brothers adalah salah satu perusahaan terkemuka di Indonesia dengan lingkup kepentingan bisnis yang berfokus pada sektor manufaktur dan infrastruktur.

Sejarah Visi dan Misi Proyek Berjalan Struktur Organisasi & Perusahaan Tata Kelola Perusahaan Kepemimpinan Entitas Kami

Kami memiliki visi berbisnis, yang mewujudkan pertumbuhan dengan melayani masyarakat dan negeri.

Cerita Organisasi Sosial

Jelajahi berita dan pengumuman terbaru kami yang mencakup inovasi, karyawan kami, keberlanjutan, pemasaran, dan lainnya.

Berita dan Pengumuman

Tinjau data kinerja perusahaan, pelajari tentang strategi bisnis kami, dan prospek masa depan.

Pesan dari CEO Ikhtisar Keuangan Presentasi Perusahaan Laporan Keuangan Laporan Tahunan Struktur Kepemilikan Saham

Ikuti berita terbaru dari Bakrie & Brothers.

GMS Paparan Publik & Aksi Korporasi Korespondensi Dokumen Pendukung

Untuk para pemikir kreatif dan percaya diri yang siap melampaui batasan.

Human Resource Career Opportunities & Inquiries
News Header
BERITA DAN MEDIA

Blog

Denyut Sektor Properti Melemah, Daya Beli Kelas Menengah Jatuh

18/02/2026
Denyut Sektor Properti Melemah, Daya Beli Kelas Menengah Jatuh

Sumber : Bisnis.com | 18 Februari 2026

Indonesia's property sector continues to show slowing performance, with residential prices recorded a steady decline since 2024.

Bank for International Settlements mencatat harga properti residensial di Indonesia anjlok dari 1,46% pada kuartal III/2024 menjadi 0,8% pada kuartal III/2025. Padahal, menurut Masyarakat Profesi Penilai Indonesia (Mappi) pertumbuhan properti Tanah Air pernah mencapai 6–7%.

Pengurus Mappi, Harizul Akbar Nazwar, menilai adanya pergeseran tren dalam pasar properti. Kini, alih-alih bergantung pada ekspektasi, pasar properti justru didorong oleh realitas maupun kebutuhan.

"So, as a primary need, it's certainly sought after. But the market has apparently shifted. From being community-driven to infrastructure-driven," Harizul explained in a recent Factory Hub Bisnis podcast.

Saat ini, masyarakat memilih untuk membeli properti dengan pertimbangan jarak, sarana infrastruktur memadai, hingga kemudahan akses transportasi dibandingkan properti dengan harga mahal sebagai aset investasi.

Harizul menyebut sektor properti merupakan salah satu sektor terpenting bagi Indonesia, mengingat kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB) mencapai 14–15%. Oleh karena itu, menurutnya, properti harus dilihat sebagai sebuah alat kebijakan bukan hanya sektor ekonomi saja.

It's no surprise, then, that the government is flooding the property sector with various incentives. These enticing policies include the People's Business Credit (KUR Perumahan) program with a 5% government interest subsidy, as well as the extension of the 100% government-borne value-added tax (PPN DTP) incentive until 2027, which applies to homes priced up to IDR 5 billion.

"Although our interest rate trend has also been relatively downward, currently at 4.75 basis points and has decreased by almost 1% compared to last year, it still feels insufficient," Harizul said.

Upaya kebijakan itupun belum menuai hasil. Persoalan sektor properti yang lesu juga disebabkan masalah struktural, seperti pelemahan daya beli hingga ketidakpastian ekonomi.

"But there's one rather interesting paradigm. There's also a trend among young people today who are avoiding home ownership," Harizul added.

Indonesia sendiri masih berhadapan dengan kekurangan alias backlog kepemilikan rumah hingga 15 juta unit. Terkait hal ini, pemerintah menawarkan solusi lewat program 3 juta rumah.

Kendati begitu, kembali lagi, para pengembang khawatir masyarakat tidak tertarik untuk membeli properti yang sudah dibangun. Harizul pun mendorong pemerintah agar tidak hanya membenahi supply side, tetapi juga demand side.

KELAS MENENGAH

On the other hand, the middle class is increasingly squeezed because they don't have as solid a foundation as the upper class, but also don't receive as much government assistance as the low-income group (MBR). Yet, this segment is targeted as a potential consumer.

According to Harizul, people, especially the younger generation, consider long-term risks, such as income and ability to repay loans. "These things make people, especially first-home buyers, relatively less confident in deciding whether to buy now or not."

Demi mewujudkan keberhasilan program 3 juta rumah, Harizul mendorong pemerintah agar mengeluarkan kebijakan terukur dengan sosialisasi optimal kepada masyarakat. Sementara itu, dari sisi pengembang, dia menyarankan agar dipersiapkan insentif non tunai untuk masyarakat. Seperti, potongan harga maupun dikonversi menjadi alat rumah tangga bagi kelas menengah ke bawah.

Berita Terkait

TENTANG KAMI

About Us

Perjalanan Perusahaan dimulai dengan kisah bisnis perdagangan kecil yang berkembang, dan dalam lebih dari 75 tahun telah terlibat dalam bisnis investasi/divestasi, mencapai berbagai prestasi dan mengantarkan Perusahaan menjadi salah satu korporasi terkemuka di Indonesia.

SELENGKAPNYA