Blog
Hadapi Serbuan Baja Impor, Asosiasi Minta Ini ke Pemerintah
Sumber : Kompas.com | 21 Oktober 2025
Industri baja nasional tengah menghadapi tekanan akibat kebijakan bea masuk nol persen untuk produk konstruksi baja jadi asal China dan Vietnam.
Indonesian Society of Steel Construction (ISSC) menilai kebijakan ini membuat usaha fabrikator lokal terpuruk dan mengancam keberlangsungan industri strategis baja nasional.
"This ISSC warning confirms that the zero percent import duty policy on imported steel construction products is not just an economic issue, but also affects the resilience and sovereignty of the national industry," ISSC Chairman Budi Harta Winata said in a statement in Jakarta on Tuesday (October 21, 2025).
ISSC meminta pemerintah mengambil lima langkah konkret untuk melindungi industri baja nasional.
Pertama, tidak memberikan izin PBG (IMB) kepada konstruksi bangunan yang dibangun menggunakan konstruksi baja impor, karena bahan baku tidak memiliki SNI dan TKDN.
Kedua, tidak memberikan label SNI untuk produk yang dihasilkan atau diproduksi oleh pabrik yang menggunakan konstruksi baja impor.
Ketiga, menghentikan pemeberian izin investasi asing baru untuk produk konstruksi baja dan rantai pasoknya. Keempat, menghentikan pemberian penerbitan surat persetujuan impor konstruksi baja.
Kelima, perketat pengawasan kontruksi baja impor HS Code 9406.XX dan 7308.XX oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.
Menurut Budi, akar masalahnya adalah ketidakseimbangan struktural dalam perdagangan internasional akibat bea masuk nol persen yang menciptakan persaingan tidak adil.
Budi mengatakan pemberlakuan bea masuk nol persen untuk produk konstruksi baja jadi seperti rangka atap baja dan struktur konstruksi baja lainnya menciptakan distorsi pasar yang parah sehingga tukang las dalam negeri kehilangan pekerjaan.
"This is like asking a local boxer to fight without gloves against a fully equipped world-class boxer. The price of imported finished products is 20-40 percent cheaper due to their thin design, while domestic fabricators must comply with the Indonesian National Standard (SNI) earthquake design standards," he said.
Fabrikator lokal, kata Budi, kini berada di ujung tanduk karena pasar produk jadi dikuasai baja impor murah. Banyak bengkel las dan pabrik fabrikasi skala kecil maupun menengah yang mengurangi produksi, bahkan terpaksa gulung tikar.
"If local fabricators die, who will buy raw materials from local companies? Policies that should support industry actually indirectly harm the local companies they should protect," continued Budi Harta Winata.
ISSC mendorong langkah-langkah solutif berupa revisi kebijakan bea masuk, menerapkan bea masuk anti-dumping dan safeguard secara tegas terhadap produk yang terbukti melakukan praktik perdagangan tidak sehat, penguatan TKDN, dan dukungan untuk perusahaan baja lokal.
Budi mendorong pemerintah konsisten menerapkan aturan TKDN dan memberikan dukungan strategis kepada perusahaan baja lokal agar semakin efisien dan kompetitif.
"We demand fair policies, not excessive protection. We must not let this strategic industry, the backbone of development, die because of policies that actually kill it," he said.
Berita Terkait
Tak Hanya Pembangkit, Transisi Energi juga Butuh Jaringan dan Penyimpanan Daya
October 28, 2026
RUU Migas Bergulir, SKK Migas Dorong Pembenahan Tata Kelola
October 21, 2026
Adopsi Truk Listrik, RI Disarankan Pakai Teknologi Tukar Baterai
October 14, 2026
Jalan Terjal RI Kejar Bauran EBT Demi Visi Ekonomi Hijau
October 01, 2026TENTANG KAMI
Perjalanan Perusahaan dimulai dengan kisah bisnis perdagangan kecil yang berkembang, dan dalam lebih dari 75 tahun telah terlibat dalam bisnis investasi/divestasi, mencapai berbagai prestasi dan mengantarkan Perusahaan menjadi salah satu korporasi terkemuka di Indonesia.
SELENGKAPNYA