{"id":3215,"date":"2019-07-31T10:00:21","date_gmt":"2019-07-31T10:00:21","guid":{"rendered":"http:\/\/bakrie-brothers.id\/dev\/?p=3215"},"modified":"2020-11-14T16:33:46","modified_gmt":"2020-11-14T16:33:46","slug":"revenue-increases-bnbr-makes-rp-222-billion-profit","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bakrie-brothers.com\/id\/news-and-media\/revenue-increases-bnbr-makes-rp-222-billion-profit\/","title":{"rendered":"Revenue Meningkat, BNBR Cetak Laba Rp.222 Miliar"},"content":{"rendered":"<p>Sumber: Humas BNBR | 31 Jul 2019<\/p>\n\n\n\n<p>PT Bakrie & Brothers Tbk (\u201cPerseroan\u201d atau \u201cBNBR\u201d) berhasil mencatatkan kinerja yang semakin kinclong, setelah beberapa tahun sejak 2012 didera beban keuangan yang cukup berat. Di semester satu tahun ini, BNBR mampu mencatatkan laba bersih Rp.222,685 miliar, sementara semester pertama tahun 2018 lalu Perseroan masih mencatatkan kerugian sebesar Rp.1,065 triliun.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKerja keras yang dilakukan beberapa tahun terakhir membuahkan hasil, BNBR kembali berhasil mencetak laba. Ini sangat menggembirakan bagi para pemangku kepentingan, terutama investor,\u201d kata Direktur Utama BNBR, Anindya Novyan Bakrie kepada wartawan di Jakarta, Rabu (31\/7).<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam Laporan Keuangan yang dirilis hari Rabu (31\/7) ini, indikator finansial BNBR memperlihatkan capaian yang lebih baik dibanding semester pertama tahun lalu. Selain laba bersih (net profit) yang mencatat Rp. Rp.222,685 miliar, Perseroan pada periode ini juga berhasil menghimpun pendapatan (revenue) yang lebih besar yakni Rp.1,712.546 triliun, naik sebesar 7,2 persen dibanding perolehan revenue enam bulan pertama 2018 lalu yang hanya mencapai Rp.1,597.156 triliun.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cPerolehan laba ini adalah catatan yang bagus. Sebab, tahun lalu Perseroan masih mencatat rugi Rp.1 triliun lebih,\u201d ujar Anindya Bakrie.<\/p>\n\n\n\n<p>Lebih jauh ia menjelaskan, sejumlah faktor juga \u2018mengangkat semangat\u2019 Perseroan sejak beberapa bulan terakhir, yaitu kinerja anak perusahaan yang makin baik dan memberikan kontribusi positif. \u201cSejak akhir Desember 2018 hingga pertengahan 2019, beberapa unit usaha menampilkan performa lebih bagus dibanding waktu-waktu sebelumnya,\u201d katanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Buah Restrukturisasi<\/p>\n\n\n\n<p>Seperti diketahui, sejak beberapa tahun belakangan ini BNBR memang konsisten melakukan berbagai upaya perbaikan posisi keuangan, utamanya dengan restrukturisasi utang serta menjalankan program cost reduction dan efisiensi besar-besaran di tingkat operasional anak-anak usaha. \u201cSecara bertahap, kinerja BNBR berhasil kita perbaiki dan tingkatkan. Beban utang secara konsisten terus berkurang dan nilai aset meningkat. Tahun lalu, kita juga melakukan konversi sebagian utang menjadi saham dan ini turut meringankan beban kita secara cukup signifikan,\u201d papar Anin.<\/p>\n\n\n\n<p>Tercatat dalam Laporan Keuangan, beban hutang dan bunga Perseroan memang berkurang dari Rp.304,6 miliar pada semester pertama 2018 menjadi tinggal Rp.82,383 miliar pada periode yang sama tahun ini. \u201cInilah salah satu bukti dan buah keberhasilan restrukturisasi keuangan Perseroan beberapa tahun terakhir,\u201d kata Anindya lagi.<\/p>\n\n\n\n<p>Capaian Dan Pengembangan Bisnis Anak Perusahaan<\/p>\n\n\n\n<p>Dari sisi finansial, pada semester I 2019 ini, PT Bakrie Pipe Industries (BPI), unit usaha Perseroan yang memproduksi pipa baja, mampu mencatatkan revenue sebesar Rp 978 miliar, meningkat 21% dibanding tahun 2018 yang sebesar Rp 803 miliar. Ini terjadi karena adanya sejumlah proyek berkesinambungan bersifat multi-years serta sejumlah proyek baru di sektor oil & gas maupun diluar oil gas.<\/p>\n\n\n\n<p>BPI saat ini mendapatkan sejumlah proyek oil&gas baru, antara lain pengadaan pipa untuk Saka Energy di wilayah Jawa Timur dan proyek Pembangkit Jawa I (IPP Jawa I). Kedua proyek ini semakin memperkuat proyek multiyears pengadaan pipa untuk bisnis Pertamina di sektor downstream (hilir) yang sudah bergulir sejak akhir 2017 dan tuntas pada semester I 2019.<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara itu, di sektor non oil & gas, tahun ini BPI kembali memenangkan tender proyek PLN untuk pengadaan tiang listrik. \u201cProyek pengadaan tiang listrik senilai Rp 400 miliar ini didapatkan kembali oleh perusahaan selama dua tahun berturut-turut. Ini capaian menggembirakan. Semua disokong penjualan para distributor BPI yang tersebar di seluruh Indonesia, selain adanya faktor cost reduction berupa efisiensi bahan baku di dalam proses produksi pipa baja,\u201d kata Anindya Bakrie, seraya menambahkan bahwa rejection rate dalam produksi di PT BPI secara konsisten telah dapat ditekan, dan saat ini tidak lebih dari 0,5 persen.<\/p>\n\n\n\n<p>Dilanjutkan Anindya, PT BPI tidak lama lagi akan mewujudkan upayanya sebagai perusahaan industri pipa baja yang lebih terintegrasi, yang mampu menjadi perusahaan one-stop shopping untuk produk pipa baja. Harapan ini didukung investasi di bidang teknologi industri, dimana belum lama ini BPI berinvestasi dalam pengadaan mesin pipa spiral (helical submerged arc welded\/HSAW). Mesin canggih ini melengkapi mesin produksi pipa yang sudah ada seperti high frequency welded pipe (HFW) dan longitudinal submerged arc welded (LSAW). \u201cHSAW diharapkan beroperasi pada kuartal III 2019. Dengan ini, BPI telah \u2018naik kelas\u2019 menjadi perusahaan one-stop shopping produk pipa baja,\u201d ujar Anin.<\/p>\n\n\n\n<p>PT Bakrie Autoparts, unit usaha lain Perseroan yang memproduksi komponen otomotif, di semester pertama 2019 mampu meraup revenue tak kurang dari Rp.188 miliar. PT Bakrie Autoparts (BA) juga terus ditantang untuk meningkatkan kinerjanya di tengah besarnya peluang sekaligus persaingan. \u201cMemang banyak challenge yang dihadapi BA, namun kami melihat, peluang bisnis di tengah semakin maraknya industri otomotif nasional juga masih banyak,\u201d ujar Anindya.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia percaya, industri otomotif nasional dalam beberapa tahun ke depan sudah lebih leluasa untuk mengembangkan bisnis mereka, sehingga mendatangkan efek sangat baik bagi kinerja industri komponen. \u201cSaya melihat, dua tahun terakhir industri otomotif lebih banyak menahan diri, wait and see, terkait dengan kondisi politik di dalam negeri. Nah, ke depan mereka akan lebih ofensif dalam mengembangkan bisnis. PT Bakrie Autoparts bisa mengambil manfaat dari situasi itu,\u201d katanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Secara khusus, ia menyebutkan potensi besar yang dapat dimanfaatkan oleh PT Bakrie Autoparts dari kecenderungan peralihan orientasi pengembangan kendaraan listrik di dalam negeri. Anindya mengatakan, langkah maju Perseroan melalui PT Bakrie Autoparts dalam mengembangkan bus listrik \u2013 bekerja sama dengan industri kendaraan listrik terkemuka dari Tiongkok, BYD Auto Co.Ltd \u2013 adalah sebuah lompatan signifikan guna mendapatkan manfaat bisnis lebih besar.<\/p>\n\n\n\n<p>Lebih rinci Anindya menjelaskan, bahwa PT Bakrie Autoparts terus melakukan proses uji coba dan sosialisasi dengan beberapa perusahaan transportasi umum terbesar di Indonesia seperti Trans Jakarta dan PPD. Diharapkan, proses<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMelihat kesiapan dan reputasi mitra kami yakni BYD sebagai produsen bus listrik terbesar di dunia, PT Bakrie Autoparts mempunyai posisi yang sangat baik untuk dapat menjadi pemimpin pasar bus listrik di Indonesia, yang pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan PT. Bakrie Autoparts secara signifikan,\u201d kata Anin sambil menyebutkan bahwa PT Bakrie Autoparts juga mulai aktif menjalin kerjasama dengan beberapa produsen komponen di Indonesia demi memastikan bus listrik BYD yang akan dipasok mempunyai tingkat kandungan lokal yang tinggi.<\/p>\n\n\n\n<p>Ditambahkannya, PT. Bakrie Autoparts juga akan terus meningkatkan kapabilitas dan peremajaan fasilitas produksinya, melalui investasi fasilitas iron casting terkini dengan output rate produksi yang tinggi dan akan meminimalkan rejection rate. \u201cRate nya sekarang sudah di bawah 7 persen saja,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Sedangkan PT Bakrie Building Industries (BBI), unit usaha Perseroan yang memproduksi aneka bahan bangunan, juga terus melakukan serangkaian improvement, dalam menghasilkan sejumlah jenis bahan bangunan yang bermanfaat, sambil terus membenahi proses produksi. \u201cManajemen PT BBI telah mampu menekan rejection rate hingga tak lebih dari empat persen saja,\u201d kata Anin.<\/p>\n\n\n\n<p>Tren industri properti yang belakangan menurun juga tidak menyurutkan langkah perusahaan untuk berinovasi demi meningkatkan performanya. Ke depan, PT BBI akan lebih fokus pada produk bahan bangunan ramah lingkungan, dan dengan menawarkan \u2018solusi total\u2019 kepada pelanggan. \u201cTeknologi bangunan prefab (prefabrikasi) dan modular yang sudah ditekuni sejak 3-4 tahun lalu mulai bergulir dan membuahkan hasil berupa pengerjaan beberapa proyek walaupun belum dalam skala yang cukup besar. Ini juga untuk menjawab tantangan program satu juta rumah dari pemerintah,\u201d kata Anindya.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia menambahkan, PT BBI juga berinovasi menghasilkan solusi infrastruktur yang berorientasi pada perlindungan lingkungan seperti sound-barrier (pelindung suara) dan breakwater (pemecah ombak) yang dikembangkan untuk kebutuhan keamanan dan kelestarian lingkungan. Produk breakwater \u201cA-Jack\u201d yang dikembangkan PT BBI bersama Institut Teknologi Bandung (ITB) menjadi pemecah gelombang yang efektif dalam melindungi wilayah perairan dari ancaman abrasi. Produk ini memiliki kemampuan tiga kali lipat lebih baik dibandingkan produk sejenis lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Sejumlah anak usaha tersebut, menurut Anindya Bakrie, juga terus mengembangkan kemampuan dengan mulai memanfaatkan sumber daya manusia dan teknologi digital. \u201cOrientasi kami adalah teknologi yang tepat guna dengan memanfaatkan perkembangan teknologi digital, serta sumber daya manusia handal, tentunya yang muda,\u201d ujar Anindya.<\/p>\n\n\n\n<p>Pengembangan bus listrik oleh PT Bakrie Autoparts, misalnya, menjadi momentum penting bagi perusahaan untuk mulai lebih memahami dan kemudian mengadopsi teknologi mutakhir di bidang industri otomotif, sekaligus sebagai sarana belajar bagi sumber daya manusia.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cLini bisnis baru di bidang bus listrik ini membawa perusahaan membuka lapangan kerja baru bagi tenaga kerja terampil dari luar, terutama yang menguasai teknologi mechatronics disamping mengadakan peningkatan keterampilan tenaga kerja dari dalam,\u201d tandasnya seraya menambahkan bahwa semua unit usaha Perseroan saat ini telah memulai program rekrutmen tenaga ahli muda.<\/p>\n\n\n\n<p>Lebih jauh, Anin juga menjelaskan tentang diakuisisinya PT Multi Kontrol Nusantara dalam kendali Perseroan, yaitu unit bisnis yang berfokus pada bisnis infrastruktur telekomunikasi dan technology solutions. \u201cIni membuktikan komitmen kami untuk berinvestasi secara serius di bidang industri berbasis teknologi,\u201d kata Anin lagi.<\/p>\n\n\n\n<p>\u2018Back to Basic\u2019<\/p>\n\n\n\n<p>Lebih lanjut Anindya Bakrie menjelaskan bahwa kinerja yang baik di awal 2019 ini diharapkan akan membuat gerak usaha BNBR semakin lincah dan agresif. \u201cHasil yang positif ini menjadi modal bagi kita untuk terus berupaya memperkuat fundamental bisnis Perseroan. Menurunnya beban hutang sudah tentu akan menjadikan struktur keuangan BNBR menjadi lebih kuat.\u201d Kata Anin menegaskan.<\/p>\n\n\n\n<p>Ditambahkan olehnya, ke depan Perseroan akan terus memperbaiki lini usaha semua anak perusahaan, sehingga mampu berkontribusi lebih besar lagi kepada BNBR untuk menjalankan usaha dan mencapai kejayaan seperti sebelumnya. \u201cKita back to basic. Kita perkuat lagi industri-industri yang sejak awal kita tekuni. Dibarengi dengan penerapan dan penguasaan teknologi terkini serta penambahan investasi terhadap sumber daya yang memadai, kami yakin BNBR akan mampu bersaing secara global,\u201d tutup Anindya Bakrie.<\/p>\n\n\n\n<p>Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:<br>Bayu Nimpuno<br><strong>Head of Corporate Communications<\/strong><br>bayu.nimpuno@bakrie.co.id<br>HP: 0815.1180.2250<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Source: Humas BNBR | 31 Jul 2019 PT Bakrie &amp; Brothers Tbk (\u201cthe Company\u201d or \u201cBNBR\u201d) managed to record an increasingly shiny performance, after several years since 2012 suffered a heavy financial burden. In the first semester of this year, BNBR was able to record a net profit of Rp.222,685 billion, while in the first half of 2018 the Company still recorded a loss of Rp.1,065 trillion. \u201cThe hard work carried out in the last few years has paid off, BNBR has succeeded in making a profit. This is very encouraging for stakeholders, especially investors, \u201cBNBR President Director Anindya Novyan Bakrie told reporters in Jakarta, Wednesday (7\/31). In the Financial Report released on Wednesday (31\/7), BNBR financial indicators show better achievements compared to the first half of last year. In addition to net profit (net profit) which recorded Rp. Rp.222,685 billion, the Company in this period also managed to collect revenue (revenue) which is greater than Rp.1,712,546 trillion, an increase of 7.2 percent compared to the acquisition of revenue in the first six months of 2018 which only reached Rp.1,597,156 trillion. \u201cThis profit is a good record. Because, last year the Company still recorded a loss of more than Rp 1 trillion, \u201csaid Anindya Bakrie. He further explained, a number of factors also \u201clifted the spirit\u201d of the Company in the last few months, namely the performance of subsidiaries that are getting better and making positive contributions. \u201cSince the end of December 2018 until mid-2019, several business units have performed better compared to previous times,\u201d he said. Restructuring Result As is well known, in recent years BNBR has consistently made various efforts to improve its financial position, primarily by restructuring debt and carrying out a program of cost reduction and massive efficiency at the operational level of its subsidiaries. \u201cGradually, we can improve and improve the performance of BNBR. Debt burden is consistently decreasing and asset values are increasing. Last year, we also converted part of the debt into shares and this helped significantly reduce our burden, \u201cAnin explained. Recorded in the Financial Statements, the Company\u2019s debt and interest expenses were indeed reduced from Rp.304.6 billion in the first semester of 2018 to only Rp.82,383 billion in the same period this year. \u201cThis is one of the evidences and fruits of the Company\u2019s financial restructuring success in recent years,\u201d Anindya said again. Achievements and Business Development of Subsidiaries From the financial side, in the first semester of 2019, PT Bakrie Pipe Industries (BPI), the Company\u2019s business unit that manufactures steel pipes, was able to record revenue of Rp 978 billion, an increase of 21% compared to 2018 which amounted to Rp 803 billion. This happens because there are a number of multi-year sustainable projects as well as a number of new projects in the oil &amp; gas sector and outside oil &amp; gas. BPI is currently receiving a number of new oil &amp; gas projects, including the procurement of pipelines for Saka Energy in East Java and the Java I Power Plant (IPP Jawa I) project. These two projects further strengthen the multi-year pipeline procurement project for Pertamina\u2019s business in the downstream sector, which has been rolling since the end of 2017 and was completed in the first semester of 2019. Meanwhile, in the non oil &amp; gas sector, this year BPI again won the PLN project tender for the procurement of electricity poles. \u201cThe Rp 400 billion electricity pole procurement project was recovered by the company for two years in a row. This is an encouraging achievement. All are supported by the sales of BPI distributors throughout Indonesia, in addition to the cost reduction factor in the form of raw material efficiency in the steel pipe production process, \u201csaid Anindya Bakrie, adding that the rejection rate in production at PT BPI has consistently been suppressed, and currently no more than 0.5 percent. Anindya continued, PT BPI will soon realize its efforts as a more integrated steel pipe industry company, which is able to become a one-stop shopping company for steel pipe products. This expectation is supported by investment in industrial technology, where BPI has recently invested in the procurement of a helical submerged arc welded (HSAW) machine. This advanced machine complements existing pipe production machines such as high frequency welded pipe (HFW) and longitudinal submerged arc welded (LSAW). \u201cHSAW is expected to operate in the third quarter of 2019. With this, BPI has \u2018moved up\u2019 to become a one-stop shopping company for steel pipe products,\u201d Anin said. PT Bakrie Autoparts, another business unit of the Company that manufactures automotive components, in the first semester of 2019 was able to reap no less than Rp. 188 billion. PT Bakrie Autoparts (BA) is also continually challenged to improve its performance amid the opportunities as well as competition. \u201cIndeed there are many challenges faced by BA, but we see business opportunities in the midst of the increasingly widespread national automotive industry are still many,\u201d said Anindya. He believes the national automotive industry in the next few years has been more free to develop their business, thus bringing very good effects on the performance of the component industry. \u201cI see, in the last two years the automotive industry has been more restrained, wait and see, related to political conditions in the country. Well, going forward they will be more offensive in developing business. \u201cPT Bakrie Autoparts can benefit from this situation,\u201d he said. Specifically, he mentioned the great potential that can be utilized by PT Bakrie Autoparts from the tendency to shift the orientation of the development of electric vehicles in the country. Anindya said, the Company\u2019s step forward through PT Bakrie Autoparts in developing electric buses &#8211; in collaboration with the leading electric vehicle industry from China, BYD Auto Co.Ltd &#8211; was a significant leap in order to get greater business benefits. Anindya explained in more detail, that PT Bakrie Autoparts continued to carry out testing and socialization processes with some of the largest public transportation companies in Indonesia such as [&hellip;]<\/p>","protected":false},"author":1,"featured_media":3216,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[37],"tags":[],"class_list":["post-3215","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news-and-media"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bakrie-brothers.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3215","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bakrie-brothers.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bakrie-brothers.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bakrie-brothers.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bakrie-brothers.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3215"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/bakrie-brothers.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3215\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bakrie-brothers.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3216"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bakrie-brothers.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3215"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bakrie-brothers.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3215"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bakrie-brothers.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3215"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}