Thursday, Mar 11, 2010
Bakrie Telecom dan Icon + Sepakati Interkoneksi

Thursday, Mar 11, 2010
Bakrieland Terbitkan Obligasi US$ 150 Juta

Thursday, Mar 11, 2010
BTELdanlcon+ Jalin Kerja Sama

Wednesday, Mar 10, 2010
BNR Genjot Penjualan Rumah



BNBR 78 0.00%
BUMI 2475 0.00%
UNSP 530 1.92%
ENRG 163 0.62%
BTEL 144 0.69%
ELTY 280 9.80%
On Thursday, Mar 11, 2010 09:51




Monday, Feb 8, 2010
Dana Asing Segera Masuk Lagi
by Karidun Pardosi dan Elizabeth Berahmana - Investor Daily Indonesia

JAKARTA-Dana-dana asing diyakini segera masuk kembali ke Indonesia seiring pemulihan ekonomi global yang kian nyata. Terlebih lagi, kinerja emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun ini diprediksi lebih baik ketimbang 2009.

 

Sejumlah ekonom sependapat, kemerosotan harga saham dalam dua pekan terakhir hanya bersifat sementara. Para pemilik dana itu sempat ragu terhadap pemulihan ekonomi global, terutama Amerika Serikat Keraguan para investor itu telah memicu pelarian modal dari bursa saham. "Semua itu hanya bersifat sementara karena keraguan tersebut mulai hilang," ujar ekonom senior Standard Chartered Bank Fauzi Ichsan kepada Investor Daily, akhir pekan lalu.

 

Hal senada diungkapkan Chief Economist Danareksa Research Institute (DRI) Purbaya Yudhi Sadewa dan Direktur Eksekutif Indef Ahmad Erani Yustika. Banyak ekonom internasional yang melihat pemulihan ekonomi AS cukup berkesinambungan, sehingga tidak perlu diragukan. "Yang terjadi dua minggu lalu hanya rasionalisasi yang diambil investor ketika mereka melihat recovery AS kurang sustainable.

 

Padahal, hal sama pernah terjadi pada Maret 2009," ujar Purbaya.Fauzi Ichsan menambahkan, rontoknya bursa saham diAS selalu berpengaruh terhadap bursa dunia. Ketika harga saham di Negeri Paman Sam pulih (rebound), investor kembali masuk, termasuk ke Indonesia. Kejatuhan pasar finansial global hanya bersifat short theraphy. "Kebiasaan investor itu suka ragu, sehingga begitu hari ini ada pemulihan, mereka kembali lagi," jelas dia

 

Pekan lalu, bursa global rontok seiring kekhawatiran investor terhadap kondisi ekonomi di sejumlah negara Uni Eropa. Namun, para investor mulai melihat sejumlah negara mengambil langkah nyata untuk mengatasi kemelut tersebut Keyakinan investor itu tercermin pada indeks Dow Jones yang berbalik arah.

 

Selain keraguan terhadap indikator ekonomi AS, menurut Purbaya, para investor sempat khawatir terhadap kasus-kasus gagal bayar surat utang di Eropa. "Itu hanya short term, saya memprediksi, paling lama dua minggu ke depan, kondisi pasar saham global bakal pulih," kata dia.

 

Purbaya menilai, ada tiga sektor yang akan lebih mendominasi pasar modal Indonesia, antara lain perbankan, energi, dan consumer goods. Hal itu dipicu tren kenaikan harga minyak yang berpotensi menyentuh di atas US$ 80 per barel.

 

Melihat tren pemulihan ekonomi global, Ahmad Erani Yus-tika sependapat, kinerja sektor konsumsi, investasi, dan belanja pemerintah akan bagus tahun ini. Namun, pemerintah mesti mendorong investasi riil, khususnya dari pengusaha domestik dan sektor industri."Kepercayaan asing membaik, tapi sebetulnya itu tidak penting bagi Indonesia. Kita berharap, ekonomi tidak tergantung dari negara lain," tandas dia.

 

Kinerja Emiten

 

Para pelaku bisnis juga optimistis, kinerja perusahaan tahun ini akan lebih baik ketimbang 2009. Mereka melihat tren pemilihan global bakal berkelanjutan, yang tercermin pada kenaikan harga komoditas.Hal itu diungkapkan Dirut PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) Alwin Syah Loebis, Dirut FT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) Ambono Januarianto, Direktur Keuangan PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) Jastiro Abi, Sekretaris Perusahaan Semen Gresik Tbk (SMGR) Sunardi, Senior Vice President Investor Relations PT Bumi Resources Tbk Dileep Srivastava, Pjs Presdir Direktur PT Astra International Tbk Prijono Sugiarto, Direktur Utama PT Summarecon Agung Tbk Johanes Mardjuki, Dirut PT Wijaya Karya Tbk Bintang Prabowo, dan Direktur PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Bien Subiantoro.

 

Alwin Syah Loebis menjelaskan, tren kenaikan harga komoditas belakangan ini bakal mendongkrak kinerja emiten berbasis sumber daya alam tahun ini. Tahun lalu, kinerja keuangan emiten berbasis SDA terpangkas seiring kemerosotan harga komoditas.

 

Ambono Junarianto juga yakin, tahun ini kinerja keuangan Bakrie Sumatera Plantations dan emiten berbasis CPO lebih bagus dari tahun sebelumnya. "Melihat tren harga sejumlah komoditas hingga akhir Januari lalu, harga CPO lebih bagus sepanjang tahun ini dari tahun lalu," tandas dia.

 

Akhir pekan lalu, harga CPO tercatat US$ 780/ton, harga minyak mentah US$ 71,19 per barel, dan harga batubara mencapai US$ 81,25 per ton. Harga tersebut belum menyentuh harga tertinggi masing-masing komoditas pada tahun lalu.

 

Bagi Astra Internasional, kinerja perseroan tahun ini tergantung kinerja tiga sektor, yaitu otomotif, kelapa sawit, dan batubara. "Untuk sektor otomotif baik roda empat maupun roda dua, volume penjualan diharapkan naik 10%. Tapi, ada beberapa isu yang bisa memengaruhi kinerja keuangan, seperti penerapan pajak progresif kendaraan bermotor dan kenaikan biaya registrasi kendaraan," ujar Pjs Presdir Astra International Prijono Sugiarto.

 

Untuk kelapa sawit, Prijono memprediksi, volume penjualan tahun ini tidak jauh berbeda dengan tahun lalu. Namun, pemulihan ekonomi diharapkan bisa mendongkrak penjualan batu bara hingga 5%.PT Indomobil Sukses Makmur Tbk (IMAS) berharap penjualan tumbuh 10% menjadi Rp 10 triliun atau 88 ribu unit "Kami berharap, pertumbuhan pendapatan bisa meningkat sejalan dengan pertumbuhan pasar kendaraan nasional sekitar 10%," kata Direktur Utama Indomobil Gunadi Sindhuwinata.

 

Dirut PT Bakrie Telecom Jas-trio Arbi optimistis, jasa telekomunikasi tetap menjanjikan dalam beberapa tahun mendatang. "Tahun ini, kinerja keuangan Bakrie Telecom kemungkinan lebih bagus, karena jumlah pelanggannya bisa tembus 14 juta dibanding target tahun lalu 10,5 juta," jelas dia.

 

Tahun lalu, operator jasa selular nomor tiga terbesar di Tanah Air, PT XL Axiata Tbk (EXCL) mencatat pertumbuhan pendapatan 14% menjadi sekitar Rp 13,85 triliun dibanding tahun sebelumnya Rp 12,15 triliun. Pencapaian merupakan hasil dari beberapa inisiatif yang dilakukan perusahaan sepanjang tahun lalu.

 

Para pebisnis properti juga meyakini bisnis sektor ini masih cerah dan lebih baik ketimbang tahun lalu. "Sektor properti memberi sinyal positif tahun ini seiring tren penurunan suku bunga kredit properti, kenaikan daya beli, dan ekspansi pengembang. Summarecon memproyeksikan kenaikan laba bersih sekitar 15-20% tahun ini," ujar Johanes Mardjuki, direktur utama PT Summarecon Agung Tbk.

 

Sekretaris Perusahaan Semen Gresik Sunardi yakin, kinerja keuangan BUMN produsen semen itu lebih bagus tahun ini dibanding tahun lalu. "Tahun 2009, kinerja memang lebih bagus dari tahun 2008 seiring adanya berbagai efisiensi dan penyebaran produk. Tapi, tahun ini lebih bagus," kata dia.

 

Hal senada diungkapkan Dirut Wijaya Karya Bintang Prabowo. "Kami melihat, perbaikan ekonomi berpengaruh positif, buktinya ada peningkatan pendapatan tahun lalu. Kalau 2008, pendapatan hanya mencapai Rp 6,5 triliun dan tahun 2009 bisa naik menjadi Rp 7,1 triliun. Pendapatan diharapkan bisa menyentuh Rp 20,82 triliun sampai akhir tahun," ungkap dia.

 

Kondisi lebih baik juga bakal dialami sektor ritel. "Pada 2009, karena kondisi krisis kami tidak terlalu agresif ekspansi. Kami hanya membuka lima gerai Hy-permart dan empat gerai MDS. Total penjualan tahun ini diprediksi sekirar Rp 15-16 triliun," tutur Danny Kojongian, direktur PT Matahari Putra Pri-

ma Tbk.

 

Sementara itu, Direktur PT Bank Negara Indonesia Tbk (BND Bien Subiantoro yakin, pendapatan dan laba bersih pada 2009melampaui perolehan tahun sebelumnya, bahkan melonjak lebih dari 100%. Menurut dia, kondisi ekonomi makro 2009 lebih baik dibanding 2008. Untuk 2010, BNI akan meningkatkan target 50% lebih besar dibanding target pendapatan dan laba bersih pada 2009. "Salah satu pemicu membaiknya kinerja tahun ini disebabkan diversifikasi penyaluran kredit ke berbagai sektor," ujar dia.

 

Grup Bakrie optimistis, kinerja keuangan tahun ini akan lebih bagus dari tahun sebelumnya. Selama Januari lalu, Bumi Resources sudah menjual sekitar 5-6 ton batubara atau merupakan rekor baru selama ini. "Kami menargetkan penjualan 58 juta ton batubara tahun 2009 dibanding sekitar 51,5 juta ton pada 2008. Tahun ini, kapasitas produksi diharapkan naik menjadi sekitar 60 juta ton batubara," kata Senior Vice President ln vestor Relations PT Bumi Resources Tbk Dileep Srivastava.

 

Menurut dia, pendapatan PT Bakrieland Development Tbk juga bisa naik sekitar 30% pada 2010 dari tahun sebelumnya. Kenaikan itu berasal dari pengoperasian sejumlah ruas tol dan regulasi yang mengizinkan investor asing untuk membeli produk properti di Indonesia.

 

Kinerja keuangan PT Energy Mega Persada Tbk diharapkan bakal lebih bagus tahun ini, setelah mengakuisisi 10% saham di Masela PSC dari Inpex Jepang. Itu berarti, cadangan minyak Energy dapat meningkat menjadi 2,5 kali. Di samping itu, dana hasil rights issue senilai Rp 300 miliar akan dipakai untuk melunasi utang, sehingga bisa mengurangi beban utang. "Seiring kenaikan harga minyak dan gas tahun ini, kami optimistis, pendapatan diharapkan lebih besar tahun ini daripada tahun lalu," jelas Dileep. (raj/na)